Bahasa Tubuh lebih Efektif Daripada Berbahasa Saja

Sudah pernah lihat TED-talks oleh Amy Cuddy yang judulnya “Your Body Language Shape Who You Are” ?

Kalau belum klik saja link-nya, tapi nanti ya setelah baca ini.ūüôā

Tidak seperti yang kita sangka, selama ini kita tahu bahwa emosi kita mempengaruhi tubuh kita (menangis-sedih lalu air mata meleleh dari mata) tapi ternyata juga sebaliknya. Bahasa tubuh kita juga mempengaruhi emosi bahkan keseluruhan diri kita.

Terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa setidaknya, 60% dari komunikasi kita adalah non-verbal dan beberapa dari studi tentang hal ini menunjukan adanya pengaruh bahasa tubuh berpengaruh sampai 93% dari efektifitas komunikasi. Kita berkomunikasi secara non-verbal melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan voice-tone. 

Para peneliti di Harvard Business School melakukan penelitan apakah bahasa tubuh kita dapat mempengaruhi pandangan orang lain terhadap kita dan jawaban adalah Iya! Untuk menguji hipotesisnya mereka melibatkan dua kelompok peserta untuk melakukan wawancara pekerjaan. Interviewer menilai para peserta secara keseluruhan, kemungkinan untuk diterima, dan cara berbicara  (seperti bagaimana berbicara penuh passion dan hangat). Sementara satu kelompok hanya wawancara biasa, dan kelompok lain harus melakukan latihan bahasa tubuh (power body language) selama dua menit sebelum masuk kedalam ruang wawancara. Dan hasilnya kelompok dengan power body language mendapatkan hasil yang lebih baik dan kemungkinan diterima kerja lebih besar.

Peneliti kemudian bertanya-tanya ‚ÄĒ jika power body language¬†mempengaruhi cara orang lain memandang kita, apakah juga mempengaruhi cara kita melihat diri sendiri? Jawabannya adalah juga Iya! Dalam sebuah studi lanjutan, Harvard Business School menemukan bahwa setelah lima menit melakukan¬†power posing, subyek penelitian memiliki peningkatan kadar testosteron dan penurunan tingkat cortisol (hormon stres)! Ini berarti power body language juga membuat kita merasa lebih tangguh!

Intinya kita bisa menggunakan power body language untuk meningkatkan percaya diri dan kemudian untuk mempengaruhi orang lain dan juga merasa lebih berpengaruh. Gunakan power posing sebelum acara penting, pertemuan, atau kencan sekalipun. Meningkatkan testosteron dan merasa lebih percaya diri dan efektif dalam mempengaruhi orang lain.

Pose yang harus dihidari

avoid
image source: gohighbrow.com

pose yang membuat mental dan emosimu semakin buruk : menyilangkan tangan, menunduk, menghimpitkan kaki. Pose diatas menunjukan rasa tidak aman, rasa tidak percaya diri.

 

Contoh power posing

power-posing
image source: gohighbrow.com

cara melakukan power posing: 

  • Mengambil ruang gerak selebar mungkin
  • Angkat tanganmu
  • Bergerak seperti berjoget atau mengikuti harmoni musik
  • bayangkan badanmu membesar seperti balon (balon yang keren ya!)

Saya sebagai orang dari etnis jawa, dan saya didalam budaya sendiri merasa bahwa power body language ini tidak biasa. Bahkan lebih dibiasakan untuk menunduk, untuk sedikit malu-malu dan menunjukan rasa hormat yang wagu. Ini oto kritik. Lain budaya timur yang wajar melakukan power posing, bahkan hal yang biasa bagi mereka untuk melakukan power posing dimana saja.

Saya sendiri harus disiplin melatihnya, dalam melakukan dan merasakan. Sehingga kedepan saya bisa lebih mantap dihadapan orang lain.

Saya akhiri dengan cerita pengalaman saya dimana saya mengatur pertemuan dengan boss besar. Agendanya adalah saya akan protes dengan isi email dari boss besar. Dan saat itu jujur, saya grogir dan hampir mengurungkan niat saya untuk konforntir email beliau. Di awal pertemuan saya merasa kecil, menunduk, melipat tangan, benar-benar dengan pose yang menunjukan sikap tidak aman dan tidak nyaman. Beberapa saat sebelum saya bicara saya ingat video TED-Talk oleh Amy Cuddy. Langsunglah saya ganti pose, dada terbuka, tangan saya letakkan di atas paha, dan badang tegap setegap bapak-bapak tertara. Dan boost saya pe-de, saya ungkapkan hati dengan lancar, gembira dan terutama berani. Saat itu saya merasa menang meskipun tidak menang berdebat tapi saya menang melawan ketakutan saya.

Itulah sebabnya saya belajar bahwa “Your Body Language Shape Who You Are!”

Itu sudah!

 

referensi : gohighbrow.com/Scientifically proven ways to increase  your influence

Image

Manfaatkan Orang Lain Menceritakan Dirinya dan Pengaruhi Mereka!

turn-people-on

Mungkin pernah mendengar cerita ini.

Pada tahun 1867, ada persaingan sengit antara Benjamin Disraeli dan William Gladstone. Bersaing untuk apa? Menjadi Perdana Menteri Inggris.¬† Selama pertempuran politik yang panas, keduanya bertemu dengan seorang wanita muda. Pada siang wanita muda ini bertemu dengan William Gladstone dan pada malam hari bertemu dengan Benjamin Disraeli. Setelah pertemuan berlangsung dan selesai melakukan percakapan dengan kedua kandidat Perdana Menteri itu, wanita muda ini berkata: “setelah duduk di samping Tn. Gladstone, saya pikir ia adalah orang terpandai di Inggris. Tetapi setelah duduk di samping Tn. Disraeli, saya merasa saya adalah orang terpandai di Inggris.”

Penelitian

Diana Tamir menemukan bahwa aktivasi otak yang paling aktif ketika orang berbicara tentang diri mereka sendiri. Dan aktivasi ini terjadi di daerah otak yang berhubungan dengan hadiah dan motivasi.Penelitian penelitian telah menemukan bahwa orang-orang senang berbicara tentang diri mereka sendiri.

  • Orang menghabiskan 60% dari percakapan yang berbicara tentang diri mereka sendiri ‚ÄĒ dan ini naik¬†ke 80% ketika berkomunikasi pada platform media sosial seperti Twitter atau Facebook.
  • Otak kita memberikan respon yang berbeda ketika kita berbicara tentang diri kita sendiri.

Lalu apa yang bisa kita manfaatkan dari hasil penelitian ini ?

Dalam membangun hubungan baik akan penting bila kita mau memancing lawan bicara untuk menceritakan dirinya. Pancing dengan bertanya, ya bertanya dengan pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang jawabannya tidak hanya ya dan tidak melainkan ada subjektivitas didalamnya.

Saya pun masih berjuang untuk tidak menyerocos cerita tentang “kalau saya…” duh… tapi itupun sering kali secara tidak sadar terjadi. Perlu latihan dan disiplin yang lebih tinggi untuk membuat orang nyaman menghabiskan waktunya untuk menceritakan dirinya kepada kita.

Saya sendiripun kadang juga sebal kalau ngobrol dipotong karena salah seorang ingin menunjukan dirinya “kalau saya…” dan terus pokoknya energi dan waktu ditarik dan dikonsumsi untuk mengiklankan diri dengan ucapan “kalau saya…” ya menyebalkan memang menyebalkan orang seperti …. mungkin kadangkala saya lupa dan menjadi orang seperti itu.ūüôā

Setelah mereka suka dengan situasi bahwa mereka diberikan ruang untuk menceritakan dirinya dan sudah ‘attach’ dengan kita maka ‘rapport’¬†(hubungan baik) mudah sekali terbangun dan dengan demikian kita bisa mempengaruhi orang tersebut dengan efektif.

 

 

Image

Dopamine dan Pengaruhi Orang Lain!

jpeg_20160218_092802_1783941689.jpg

Tidak tahu bagaimana caranya harus menarik perhatian orang lain. Saya dulunya sangat merasa terganggu bila bicara di depan kelas dan satu persatu secara bergantian para peserta keluar ke toilet entah pokoknya keluar ruangan. Saya merasa sendiri bahwa artinya saya membosankan dan tidak lagi menarik perhatiannya. Itu salah satu indikasi bahwa yang saya omongkan sudah basi atau cara saya tidak lagi menarik.

Hasil Penelitian

Ahli Biologi molekuler John Medina menemukan bahwa otak kita dengan mudahnya bosan dan membutuhkan stimulasi konstan untuk tetap tertarik pada pembicaraan.  Cara terbaik untuk mempengaruhi seseorang adalah untuk  memompa dan meningkatkan dopamine pendengar kita.

Dopamin adalah neurotransmitter yang dilepaskan seperti halnya ketika kita merasakan kenikmatan atau saat memenangkan suatu kontes. Dengan kata lain, dopamine akan membanjiri otak kita ketika kita merasa senang.

Seth J. Gillihan menemukan bahwa satu hal yang dengan mudah dapat memicu dopamine adalah ide yang benar dan disampaikan dengan interaksi yang baik.

Bila dalam suatu pertemuan dan kita saling berkenalan dan seringkali ucapan yang muncul adalah “apa kabar?, dari mana asalnya? “. Ucapan ini cukuplah biasanya sehingga tidak menimbulkan kesan.

Solusinya

Lebih berani dan lebih dalam untuk mengeksplorasi percakapan “Anda terlihat senang, apa yang buat bapak senang sekali?” atau “Meskipun lama tidak bertemu ibu terlihat tidak berbeda, apa yang membuat ibu awet muda?

Percakapan seperti ini akan memicu dopamine dan membuat pribadi kita lebih berkesan dan semakin mudah pulalah untuk mempengaruhi orang lain.

Tantangan

Cobalah buka chat facebook atau medsos lain dan coba sapa teman anda yang online dan bercakap-cakaplah lebih dalam. Latihlah untuk memompa dopamine orang yang anda ajak bercakap-cakap

pranala luar : gohighbrow.com/Scientifically proven ways to increase  your influence

 

Image

Self-Boycott “Penyakit Jangan-Jangan”

Kata “jangan-jangan” sering sekali muncul di pikiran. Saat ingin menulis atau membagikan sesuatu yang baik ada kata “jangan-jangan” muncul dan sirnalah keinginan.

Ingin menulis tentang Kabar Baik tapi “jangan-jangan” muncul dengan jangan-jangan aku menulis apa yang tidak bisa aku lakukan. Mengajarkan ini itu tapi tidak bisa melakukan. Rasanya syarat “Walk the Talk” menjadi momok menakutkan.

Jangan-jangan cukup menakutkan akhir-akhir ini, tidak lagi bisa produktif. Memagari kemauan, mengaborsi ide-ide.

Ketakutan “jangan-jangan” ini muncul karena juga imajinasi “Apa kata orang?”.

Sebenarnya adalah ketakukan akan penolakan diri (Self-Denial), takut untuk diterima orang lain, takut dikritik bahkan takut dicela orang. Bahkan diperhatikan menjadi invisible cukup menakutkan bagi orang-orang tertentu.

Dulu, ada seorang teman yang menghujam dengan kata “halah dulu kamu juga kayak apa?” saat presentasi di depan kelas. Hujaman ini teriang-ngiang, mungkin ini menjadi hantu penolakan diri untuk perkembangan diri.

Hujaman orang-orang negatif lebih membunuh dari racun ular berbisa sekalipun. Membunuh keberanian ekpresi diri.

Namun, semua orang akan berhak mengatakan apa yang perlu dia katakan. Bentengnya adalah kita sendiri, bagaimana saya meresponnya. Perlukah saya anggap serius?

Reaksi kitalah yang penting, sangat penting bahkan. Apakah kita ingin di intimidasi dengan imajinasi negatif dan ketakukan-ketakutan yang tidak jelas itu?

Jangan-jangan akan mudah dieliminasi dengan “kepada tidak?”. Yah jiwa kita ada singa pemberani yang mengaum, seberapa keras tergantung bagaimana kita memberikan makan kepadanya. Semakin banyak kita perhatikan maka singa pemberani ini akan bertumbuh pula.

Jangan memboikot diri!

 

 

Image