Not just logic but also empathy

“The great gift of human being is that we have the power of empathy” -Meryl Streep

Empathy is the ability to imagine yourself in someone else’s position and to intuit what that person is feeling. It is the ability to stand in others’ shoes, to see with their eyes, and to feel with their hearts. It is something we do pretty much sponstaneously, an act of instinct rather than the product of deliberation. But empathy isn’t sympathy – that is, feeling bad for someone else. It is feeling with someone else, sensing what it would be like to be that person. Empathy is a stunning act of imaginative derring do, the ultimate virtual reality – climbing into antother’s mind experience the world from that person’s perspective.

Empathy is mighty important. Empathy allows us to see the other side of an argument, comfort someone in distress, and bite our lip instead of muttering something snide. Empathy builds self-awareness, bonds parent to child, allows us to work together, and provides the scaffolding for our morality.

“Leadership is about empathy. It is about having ability to relate and to connect with people for the purpose of inspiring and empowering their lives.” – Oprah Winfrey


Salah satu yang selalu aku benci

Mengendarai kendaraan. Menembus macet dan selalu konsentrasi namun zing ada saja ide yang lewat “aha… brilian untuk dituliskan.” Tangan memegang kemudi, buku catatan dan pena tak dapat dijangkau, berhenti sejenak untuk mencatatnya pun akan menyesal untuk terlambat ke tempat tujuan.

Sampai sekarang saya benci karena saya lupa ide brilian tadi yang zing lewat tadi.

Cuma bisa mengira-ngira apa yang lewat tadi tapi sungguh tidak bisa recall. Kadang inspirasi itu datang seperti kentut yang tidak dinyana karena habis menguap juga kita lupa bagaimana baunya.

apakah harus hp standby dan start voice record ?




Not just argument but also story

“Humans are not ideally set up to understand logic; they are ideally set up to understand stories.” – Roger C. Schank, cognitive scientist.

When facts become so widely available and instantly accessible. Each one becomes less valuable. What begins to matter more is the ability to place these facts in context and to deliver them with emotional impact.

And that is the essence of the aptitude of story – context enriched by emotion.

Story exists where high concept and high touch intersect. Story is hight concept because it sharpens our understanding of one thing by showing it in the context of something else.

Story have the felicitous capacity of capturing exactly those elements that formal decision methods leave out. Logic tries to generalize, to strip the decision making from the specific context, to remove it from subjective emotions. Stories capture the context, capture the emotions…. Stories are important cognitive events, for they encapsulate, into one compact pacakage, information, knowledge, coontext, and emotion.

Story is having another important impact on business. Like design, it is becoming a key way for individuals and entrepreneurs to distinguish their goods and services in a crowded marketplace.



Not just Function but also design

“Aesthetics matter. Attractive things work better.” – Don Norman

Borrow Heskett’s terms, a combination of utility and significance. A graphic designer must whip up a brochure that is easy to read. That’s utility. But at its most effetive, her brochure must also transmit ideas or emotions that the words themselves cannot convey. That’s significance. A furniture designer must craft a table that stands up properly and supports its weight (utility). But the the table must also posses an aesthetic appeal that transcends functionality (significance).

Whole New Mind; Why Right Brainers Will Rule The World


A Whole New Mind: Why Right-Brainers Will Rule The World (Lesson)

Six Sense.

Together these six high-concept, high-touch senses can help develop the whole new mind this new era demands.

  1. Not just Function but also design. It’s no longer sufficient to create a product, a service, an experience, or a lifestyle that’s merely functional. Today it’s economically rewarding to create something that is also beautiful, whimsical, or emotionally engaging.
  2. Not just argument but also story. When our lives are brimming with information and data, it’s not enought to marshal an effective argument. Someone somewhere will inevitably track down a counterpoint to rebut your point. The essence of persusion, communication, and self-understanding has become the ability also to fashion a compelling narrative.
  3. Not Just Focus but also symphony. Much of the industrial and information ages required focus and specialization. But as white-collar work gets routed to asia and reduced to software, there’s a new premium on the opposite aptitude: putiing the pieces together. What’s in greatest demand today isn’t analysis but systhesis – seeing the big picture, crossing boundaries, and being able to combine disaparate pieces into an arresting new whole.
  4. Not just logic but also empathy. The capacity for logical thought is one of the things that makes us human. But in a world of ubiquitous information and advanced analytic tools, logic alone won’t do. What will distinguish those who thrive will be their ability to understand what makes their fellow woman or man tick, to forge relationships, and to care for others.
  5. Not just seriousness but also play. Ample evidence points to the enormous health and profefssional benefits of laughter, lightheartedness, games, and humor. There is a time to serious, of course. But too much sobriety can be bad for your career and worse for your well-being. In the conceptual age, in work and in life, we all need to play.
  6. Not just accumulation but also meaning. We live in a world of breathtaking materian plenty. That has frees hundreds of millions of people from day-to-day struggles and liberated us to pursue more significant desires: purpose, transcendence, and spiritual fulfillment.

Design. Story. Symphony. Empathy. Play. Meaning. This six essensial sense  increasingly will guide our lives and shape our world.


(Khadian) Cinta Membuat Kami Tetap Hidup

Image :


Pak Rahmad membawakanku makanan cepat saji. Aku tidak menyuruhnya membeli. Setelah kejadian nyaris bunuh diri itu aku lebih banyak diam, duduk di sofa dan hanya termenung. Sepertinya Pak Rahmad tahu aku sedang depresi berat.

Dia berdiri di depanku, menatap mataku dalam-dalam, aneh ko supir kayak gini ? Dia tak menurunkan matanya. “Ada apa pak?” gertak ku..

Singkat dia hanya menjawab “Bapak sehatkan? ”

“Sudahlah pak, gak papa”….. jawab ketusku…

Dia hanya diam menatapku lagi, tatapan matanya cukup kuat di dalam tubuhnya yang tua dan kecil. Cara menatapku ini lain dengan biasanya yang penuh kelembutan. Sambungnya “Di setiap gak papa, pasti selalu ada apa-apa”… Dia meletakan piring dengan makanannya di meja dan dia pergi meninggalkan aku sendiri.

Pengalaman hampir mati ini rasanya seperti kanker yang menggerogoti jiwaku. Entah setan apa yang menghigapiku sampai kemarin aku berniat mati. Setiap kali tutup mata, muncul bayangan gila, suara gesekan rel kereta, klaksonnya masih mengiang di kepala ku

Kenapa aku harus mengalami hidup ini, melepaskan orang yang aku cintai untuk pernikahan dengan perempuan sialan. Menggadaikan kebahagianku untuk membahagiakan orang-orang lain, katanya aku akan membahagiakan keluarga, melanjutkan keturunan yang baik tapi disini aku sendiri terhempas dari kehidupan yang baik.


Sore itu aku minta diantar Pak Rahmad keluar…. Saya bilang pokoknya keluar pak… Putar-putar saja…

Dia bilang “Pak… Jakarta ni pak… Jangan pikir ini sedang di bali pak…. Ini Jakarta trus Bapak suruh saya muter-meturin bapak… Duuh Pak..”.

“Mau nggaak?” Balasku.. Dia jawab singkat “86”.

Lalu bapaknya nyolonong ke mobil.

Start engine dan pergi. Kadang kalau melihat jalan lalu lalang ekspresi orang-orang ditengah macet bisa sedikit memberikan pengertian di pikiranku… Aku tidak sendirian stres, banyak orang juga mulai hampir gila.

Aku bukan orang Jakarta, nggak tahu mana jalan ini mana itu jalan itu. Bagiku semuanya sama, orang sibuk dengan tujuan masing-masing. Semua sedang memperjuangkan kebahagiaan dengan definisi masing-masing. Semua ingin bahagia dan bahagia harus diperjuangkan.

Orang-orang ini mengebut, zig-zag kirim kanan, berlarian mengejar bus, berlarian menyeberang jalan, berlari menjadi nomor satu dalam apa yang dia perjuangkan saat ini. Mungkin inilah kenapa manusia disebut “Human Race”. Balapan terus menuju tujuannya. Semua orang dalam lintasan masing-masing untuk mencapai tujuannya, mungkin bisa jadi berlomba melawan orang lain, berlomba melawan kesedihan, atau bahkan berlomba melawan waktu.

Di dalam mobil ini suasananya hening… Pak Rahmad tidak berkata-kata hanya mengendarai mobil dengan diam. Musik pun tidak ada. Hanya ada suara-suara bising jalanan. Kadang keheningan itu rasanya seperti hukuman.

“kemarin saya hampir mati pak…. ”  Tanpa kusuruh bibirku mengucapkannya.

Kemarin aku berniat mati, tidak sanggup menahan desakan pikiran perasaan ini pak. Rasaya sudah tidak ada harapan hidup. Yang saya pikir benar ternyata salah. Yang aku pikir akan menyenangkan banyak orang ternyata aku sendiri yang tidak bahagia. Habis-habis sudah.

Sambil mengoper gigi Pak Rahmad menimpali “trus bapak ko ga jadi mati hihihi? ”




Mungkin Tuhan masih mau Pak Dhian untuk hidup, dia mengirim malaikat yang mencegahmu untuk mati. Meskipun malaikat itu datangnya juga jadi orang susah yang juga mau mati. Bersyukurnya bapak masih hidup sampai sekarang. Itu artinya jatah hidup bapak belum habis, masih harus ada yang dikerjakan di dunia ini. Jangan mati dulu, yang punya hidup belum ACC. Sabar pak semua orang pada akhirnya akan mati tapi yang memberikan persetujuan mati atau tidak bukan ditangan kita tapi tuh BIG BOSS yang punya hidup tuh.

Pak, bapak ini enak loh, kaya, ganteng, muda, pasti pak sekali kepret aja tu gadis-gadis langsung klepek-klepek. Apa sulitnya buat bapak cari yang lain, ya to ?

Lain lagi pak, banyak orang pak yang saat ini tukar nasib dengan bapak. Banyak orang yang lebih sulit situasinya dari bapak. Nah ini bapak malah mau mati.

Pak kita dimobil ini, dibatasi kaca sekian mili ini situasinya berbeda dengan yang diluar sana. Disini adem dengan AC kita bisa bicara hidup kita dengan nyaman. Yang dipinggir jalan sana pak mungkin situasinya 360 derajar berbeda. Dalam panas dan perut lapar mereka mungkin juga punya masalah dengan istrinya dengan pernikahannya.

Tapi kadang kita juga harus melihat darah kita sendiri supaya sadar kalau kita ini masih hidup. Seringnya lupa, kalau kita ini masih bernyawa.

Menerima ternyata lebih sulit dari melawan ya?

Ya melawan sampai habis-habisan ternyata sebenarnya kita hanya perlu menerima saja. Coba kalo diterima saja mungkin tidak perlu ada keinginan untuk mati. Karena kita keras dengan keinginan kemauan kita, hingga kita melawan habis-habisan dan kecewa. Coba kalo dari awal kita menerimanya. Menerima seutuh-utuhnya.

Dan menerima itu tidak mudah karena lihat saja buktinya… Maunya kita melawan dulu… Pokoknya lawan dan akhirnya baru bisa menyadari bahwa kejadian ini harusnya diterima saja. Sampai kita bisa memeluk tragedi yang terjadi dan mengatakan aku menerimamu.

Nrimo ing Pandum ….

Mungkin bapak tidak pernah mendengar ya pak?. Tapi inilah yang membuat orang-orang seperti saya ini pak kuat menjalani hidup. Saya ini pak rasanya seperti karung pasir yang buat latihan petinju-petinju itu. Biar petinju itu sekuat Mike Tyson sekalipun karung pasirnya tetap tegar berdiri didepannya tanpa mengeluh dan tetap menerima satu persatu pukulan itu. Mau dihantam seperti apa yang saya diam. Dipukul yang masih amatir sampai yang sudah profesional, keras, cepat, bertubi-tubi yang saya diam. Saya tidak bisa melawan tapi saya kuat pak.

Narimo ing pandum artinya menerima seutuhnya… Menerimanya sampai ke dalam hati. Ikhlas berserah pada Yang Maha Kuasa.

Khadian menyahut “Pak saya ini manusia bukan pasir! Apalagi pakai karung”.

“Oh ya sudaah!” sahutku



Pak – pak berhenti pak itu Kintan… Wah jantung serasa mau lepas, sekian lama aku merindukannya dan muncul begitu saja…

Dia berdiri di sana. Sekian langkah menyeberangi jalan ini aku sudah bisa menyapanya. Dia berdiri di depan kafe dengan hp ditangannya, sepertinya dia sedang menunggu taksi atau jemputan. Dia tetap sama, tetap cantik dan anggun. Sepertinya dia kelihatan bahagia.

Muka ku sampai aku tempelkan ke kaca untuk melihatnya, rasanya campur aduk antara cinta ini kembali berapi-api, senang akhirnya aku melihat dia baik-baik saja, tapi aku takut sungguh kecewa dengan apa yang aku lakukan kepadanya.

Tetttt…. Mukaku menempel di kaca mobil ikut turun kaca mobil…. Sialan Pak Rahmad menurun kaca mobil tanpa perintahku, rasanya hidungku dijewer turun.

“sudah pak kesana aja… Temui saja pak… ” celetuknya

“Tidak pak tidak… Dia pasti ngeri melihatku… Tanganku dingin pak.. ” Jawabku

“cepat pak … Sebelum dia pergi” … Katanya

“Tidak pak … Aku tidak berani merusak hidupnya lagi”. Ngeyelku.

Graakk…. Pak Rahmad melempar pintu mobil, pintu mobil terbuka lebar, Dia merangsek masuk tangannya memegang celanaku. Dia menarikku sambil teriak “Keluar keluar… ” katanya.  Semakin kuat dia menarik. “Pak jangan pak jangan pak… Aku memegang jok mobil kuat-kuat” aku memohon.

Celana jogerku terus ditariknya…

Sudah kelutut celana ini… Dia tidak berhenti… Terus menarik-narik semakin kuat dia bilang “Keluar-keluar… ”

“hrrruaaaa…. Hruuuaaah” aku meronta-ronta….

Sampai aku sadari orang-orang sudah berkerumun di mobil…

“ada apa pak … Ada apa pak? Maling ya? Begal ya ?”

Dia melepaskan…

Tenang sedikit tenang, lelaki tua gila ini melepaskan celanaku.

Tanganku cepat-cepat pegang kolor celana… Segera aku naikan celanaku… Cepat-cepat aku tutup pintu mobil…

Mungkin ibu-ibu itu dari tadi tertegun memandangi boxer hijauku….

Orang-orang bertanya, “Ada apa? Ada apa?”

“Bukan… Bukan… Sudah gapapa… Cuma olah raga saja… ” Kata Pak Rahmad

“Paaaakkk…. Bapak ini kurang ajar sekali… ” teriakku……

Aku lihat kintan sudah pergi dengan taksi..

Sedikit tenang, menghela sedikit nafas


Tidak bisa kubayangkan kalau bertemu Kintan di momen seperti ini. Pasti dia melongo celana di lutut untunglah nggak terjadi, Jangan sampai. Mending mati deh.

Pak Rahmad mukanya tidak ada rasa bersalah… Dia hanya bilang “Pak… Wanita itu yang bapak inginkan sampai bapak mau bunuh diri, tadi wanita itu ada diseberang jalan dan bapak Dhian cuma bisa menatap bengong… Mlongo kayak sapi hihihi”.
“Paakkk… Paakk Rahmad ini supir yang paling kurang ajar… Sama majikan kayak gitu”

“Biarin yang penting saya tidak penakut kayak bapak buahaha” sahutnya… Dengan senyum dan kumisnya yang tersungging… Tanpa rasa berdosa….

“Kuraaang….. Ajaaaaarrrr….. Kuuuuuraaaannggg ajaaaarrrr…… ” kulempar kotak tisu ke kepala Pak Rahmad…

Pak Rahmad tanpa berdosa, tetap terkekeh. Dengan santainya melaju, gas pol meninggalkan kerumunan orang-orang penasaran. Orang hanya menyoraki “huuu” sepanjang jalan, pak rahmad bisa-bisanya tertawa saja.


Aku masih jengkel dengan Pak Rahmad, supir macam apa yang berani kurang ajar seperti itu. Benar-benar kurang ajar, pulang sampai apartemen pasti akan langsung aku pecat.

Sementara menggerutu, handphone menerima panggilan masuk. Nomor tidak dikenal, sudah beberapa hari ini tidak ada orang menelponku tidak ada yang menyapa, siapa yang menelponku? Angkat saja.

“Siapa ini ? ” Tanyaku

“Pak Dhian, Pak saya orang tua yang bapak tolong pak, ingat pak saya Pak Diro, saya selamat karena bapak. Anak saya mau ngomong pak”. Jawabnya.

Anaknya meminta ku untuk bertemu, aku mengiyakan saja. Kita bertemu di dekat lokasi favorit untuk para penyuka bunuh diri. Di pinggir rel kereta kemarin itu. Takut sih, tapi juga tidak tempat mana lagi.

Sampai di pinggir kereta, aku lihat Pak Diro menggandeng cucunya, anaknya perempuan menggengong anaknya yang kecil sekaligus menggandeng anaknya yang lain lagi. Mereka berjalan di meniti pinggiran rel kereta api. Tampak keluarga ini rapuh, sungguh kasihan kehidupan mereka.

Sampai di depanku, anak Pak Diro langsung sujud didepanku, berusaha mencium kakiku. Aku menghalaunya, ku tarik-tarik naik tetap saja dia berlutut lemas didepanku. Haru tangisnya memecahkan hatiku, anaknya ikut nangis kebingungan melihat ibunya.

“Pak, terima kasih, Bapak menyelamatkan bapak saya. Sungguh Bapak malaikat untuk keluarga saya. Selama ini meskipun Bapak sakit dia mati-matian membantu keluarga saya. Saya hanya bisa berharap kepada Bapak saya, suami saya tidak tanggung jawab pak” deru anak Pak Diro.

Aku memeluknya, tangisnya membasahi dadaku. Pak Diro juga menangis sambil mencium kening cucunya.

Momen ini menghancurkan hatiku.

Aku hanya bisa berkata “Tidak papa bu, sesungguhnya Pak Diro adalah malaikat yang menyelamatkan saya”.

Aku tidak menjelaskan lebih lanjut. Hanya menguatkan mereka untuk berdiri. Anaknya berjanji untuk mengembalikan uang pengobatan di klinik. “Tidak perlu” sahutku.

Kurogoh sakuku, dompetku ku buka, kuambil semua uang yang ada, aku sampaikan ke tangan Pak Diro namun anaknya menolaknya bahkan mendorong tanganku. Dia bilang “Tidak perlu pak, sudah banyak hutang kami ke bapak, kami masih bisa hidup yang penting kami ada bersama-sama, selama kami bersama-sama saya yakin pak kita bisa tetap hidup dan bertahan hidup. Cinta membuat kami tetap hidup Pak”. Aku tidak bisa memaksanya lagi.

Aku menawarkan, kalau mereka butuh bantuan apapun aku akan datang dan membantu semampu yang aku bisa. Sebenarnya hutangku yang lebih besar. Aku hidup sampai saat ini juga karena ada Pak Diro. Tidak lama mereka harus pergi karena anaknya juga harus bekerja di malam hari. Aku sempat bertanya anaknya bekerja apa, jawabnya semua yang bisa dikerjakan. Hanya saja, setiap sore sampai tengah malam anak Pak Diro mendapatkan kerja sebagai tukang cuci piring di penjual nasi goreng. Pada pagi harinya anak memulung apa saja yang bisa dijual, katanya yang penting halal.

Kekuatan hidup Ibu dengan tiga anak dan menghidupi satu orang tua sakit sungguh luar biasa. Sangat luar biasa bahkan. Masih tegap berdiri, tetap harus hidup untuk anak-anaknya. Aku terus teringat dengan kata anak pak Diro tadi “Cinta membuat kami hidup”, kata-katanya tadi menjadi cambuk untukku sendiri. Orang lain bertahan hidup karena cinta, sedangkan aku ingin mengakhiri hidup karena cinta. Ya, cinta akan membuat aku hidup, ya karena cinta.

Setelah kita berpisah, aku lemas, aku duduk di bawah pohon, menyadari situasi ini aku menangis. Seperti anak kecil menangis. Air mata deras mengalir, aku menangis tersedu-sedu. Tidak aku sangka Pak Rahmad datang di memegang pundakku. Aku merasakan Pak Rahmah menguatkanku tanpa bicara. Dia memberikan enerji seperti seorang bapak kepada anaknya. Tangisku semakin menjadi, Pak Rahmad dengan lembutnya memelukku. Dia mengatakan “Pak Dhian, Bapak orang baik, Bapak menyelamatkan bukan satu orang namun satu keluarga. Di dalam diri Bapak ada jiwa besar yang mau berkorban untuk orang lain. Bapak orang baik”.

Aneh ya pelukan dengan supir, tapi dalam momen itu aku tertolong, seperti ada saluran enerji yang menguatkanku untuk sanggup berdiri kembali. Seperti menemukan seorang ayah yang tidak pernah kudapatkan. Pak Rahmad, anda tidak jadi aku pecat!.


Khadian laki-laki ga jelas di cerita Tepian Rasa karya Arum Sarilangit. Khadian sama seperti kamu dan aku, sering sekali terombang ambingkan keadaan. Semoga Khadian menemukan pencerahan dalam hidupnya.

Baca juga novel Tepian Rasa ya.. ceritanya tak terduga!



Side Story TEPIAN RASA: Khadian

tepian rasa

Tongttt! Tongttt!

Suara klakson kereta memekikan telinga, kereta api itu melaju melewati palang kereta.

Suara kereta semakin keras, semakin dekat!

Bahkan aku sudah bisa merasakan getarannya.. Tinggal selangkah saja semua pasti selesai!

Cukuup! Aku akan selesaikan sekarang!!

Aarrrrrrggghhhh! Pekik seorang lelaki tua renta yang kurus, aku tidak menyangka dia ada beberapa meter di sebelah kananku. Apa yang dia lakukan ? Kenapa dia berjongkok tepat di samping kereta? Kenapa di meremas perutnya ?

Kereta semakin mendekat !! TOOT!! TOOT!! Lampunya menyinari wajahku. Membuatku ga bisa melihat jelas orang tua itu….

Aaaarrrggghh!!! sekali lagi dia berteriak, aku bergegas berlari melihatnya. Aku pegang bahunya! Dia melemparkan tanganku… Dia bilang “aku mau mati aku mau mati… Aaargghh”.

Tanpa pikiran panjang aku tarik dia pinggir rel kereta, aku menariknya sekuat tenaga. Meskipun dia mencoba melawan, mencoba melepaskan genggaman tanganku dari lengannya, tetap saja aku menariknya sampai ke pinggir. Dan untunglah kereja sudah melaju…. Dentuman besi rel memekakkan telingaku… Dia tetap berteriak-teriak sambil meremas perutnya…

“Kenapa pak, kenapa mau mati?” kemudian dia menangis terisak-isak. Laki-laki ini mungkin usianya sudah lebih dari 60an tahun. Dia terlihat kurus dan kumal. Kakinya terlihat kecil, seperti orang sakit.

Beberapa saat dia mulai tenang, dia bilang “kenapa tahan aku? Aku mau mati saja!”. Aku hanya bisa terdiam..

“Kenapa harus sekarang ? Aku juga mau mati! Aku datang ke pinggir rel kereta ini juga untuk mati! Kamu tahu itu, aku juga mau mati!” raungku dalam hati. Aku kesini ga bawa sengaja ga bawa apa-apa, ga bawa tanda pengenal apapun, karena aku ingin mati menabrak diriku ke kereta. Orang pasti pikir aku hanya seorang gelandangan yang putus asa. Keluargaku ga akan tahu aku mati dengan cara ini. Mereka hanya tau aku pergi meninggalkan mereka karena benci ini.

Aku taruh kepala orang ini di pangkuanku, aku bilang “Kenapa harus sekarang?”, Dia menyahut “Aku sakit, aku lapar, aku ga mau hidup lagi, aku hanya bikin susah keluargaku” Lanjutnya “tolong lepaskan aku, lepas, lepas… Tolong aku cekik aku saja… Ayo cekik”. Tanpa aku sadari di air mataku jatuh membasahi wajah orang tua ini. Aku memeluknya… Benar-benar kenceng aku memegangnya… Aku meraung-raung bermandi debu tanah.

Sekian waktu setelah aku tenang, sekali lagi kutanya “kenapa perutnya pak?” Dia jawab “Aku tidak makan sudah dua hari, aku keluar dari rumah, karena aku sakit dan tidak bisa kerja lagi aku tidak mau menambah beban anakku yang seorang janda dengan tiga anaknya, selama dua hari ini tidak ada yang peduli denganku jadi mati akan lebih baik untukku”.

Aku mengangkatnya, ku rangkul dia…. Sekuat tenaga dia berusaha berdiri… “Pak, kita ke rumah sakit ya”, sebelum kesini aku liat ada klinik kecil di jalan sebelum rel ini. Kubelikan dia air dan roti dengan uang kembalian taksi tadi. Dia dirawat disini… Aku telpon Pak Rahmad supirku selama aku di jakarta, suruh datang kesini bawa dompetku yang aku sengaja simpan di kamar apartemenku.

Pak Rahmad akhirnya dia datang, dia memberondongku dengan pertanyaan “Pak Bapak kemana aja, ko ga bilang ke saya, minta antar? Kenapa bapak kotor sekali Pak? Bapak baik-baik saja kan?” terus dia tanya terus, aku tidak menjawab hanya masuk ke klinik.

Sudah selesai aku bayarkan semuanya pengobatan Pak Diro, orang tua yang hampir mati sama-sama denganku tadi. Aku masuk ke ruangan dimana pak Diro dirawat “Pak, saya Haidan, yang membawa bapak kesini. Bapak tenang saja. Bapak sudah dirawat disini saya sudah bayar semuanya. Pak, ini uang untuk bapak semoga bisa dipakai kalau bapak sesuatu telpon saya” kuberikan semua uang yang ada didompetku, aku sudah tidak tahu lagi berapa, yang penting bapak itu bisa membeli makan dan baju untuk beberapa hari. Aku memastikan suster merawatnya dengan baik, aku juga meninggalkan nomor teleponku supaya bisa menghubungiku kalo ada sesuatu terjadi dengan Pak Diro.

Di dalam mobil aku hanya terpikir “Gilaaa, sedikit lagi mungkin aku sudah kelar, ya Tuhan aku bisa segila ini , Kintan! Kintan!” teriak ku dalam hati. Pak Rahmad hanya diam, sesekali dia melihatku dari kaca mobil yang tersandar lemas. Malam ini bisa saja aku mati, entah kenapa dengan cara ini Tuhan melarangku untuk mencabut nyawaku sendiri. Selanjutnya apa lagi Tuhan?”.


Aku buka mata, aku liat pak rahmad duduk di depanku. “Pak, Bapak sehat?, ini sudah siang pak, Bapak sehat pak?” tanyanya. Aku tahu dia pasti melihat botol-botol minuman di meja itu.

Aku liat sudah jam 2 siang, semalaman aku hanya terdiam berjam-jam di bawah shower dan pastinya aku merayap untuk sampai ke tempat tidur ini.

Belum lama aku sampai Jakarta tapi sudah segila ini. Aku ga punya motivasi hidup lagi. Kintan, masihkah dia mau menerimaku. Setelah aku mengecewakannya, meninggalkan dia untuk menikahi perempuan sinting pilihan orang tuaku. Kintan aku harap kamu masih punya sisa ruang hati untukku. Aku akan menemukanmu.

Tidak banyak yang aku lakukan, setelah Aku dan Saras berpisah, meskipun kita belum berceria tapi aku anggap dia sudah tidak ada. Aku mengikuti pilihan orang tuaku untuk menikahi gadis yang menurut mereka baik hanya karena adat dan pernikahan politik.

Tidak lama kami menikah, dia bertemu dengan seorang cowok di gym dan kemudian menjalin hubungan gelap dibelakangku. Kata orang cowok itu gigolo, bikin otot bagus untuk menarik tante-tante muda yang bisa memanjakan gaya hidup hedonnya. Saat ini, aku tidak tahu dimana dan aku tidak tahu peduli lagi. Pernikahan kami bukan atas dasar cinta, meskipun aku sendiri sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik. Tetap saja pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan.

Kenapa aku menikahi saras? Kamu mungkin tidak lahir di keluarga yang patuh dengan adat kepercayaan dan bisnis keluarga yang turun menurun harus dijaga. Pernikahanku hanya serupa kertas kontrak antara pewaris bisnis hotel di bali dan anak pejabat, bahkan tidak lebih dari itu.

Isi pikiranku hanya kintan saja, perempuan yang sungguh-sungguh aku cintai. Dia adalah wanita ideal lengkap dengan kelembutan namun juga tangguh. Cantiknya tak kalah dengan model-model yang orang liat di cover-cover majalah fashion. Kintan wanita yang pernah aku janjikan untuk aku nikahi namun aku patahkan hatinya karena harus menikahi Saraswati, lengkapnya Amelia Saraswati. Sejak hari itu dia menghilang, entah dimana dia saat ini. Dia menghilang begitu saja, semua informasi yang aku punya tidak berguna. Keluarganya pun ikut marah, dan menjauhkan dia dari ku.

Maafkan aku yang melukaimu…

Aku sama seperti kamu, aku bingung, aku takut, aku tidak punya arah.

Benar katamu aku laki-laki yang tidak jelas!


Khadian laki-laki ga jelas di cerita Tepian Rasa karya Arum Sarilangit. Khadian sama seperti kamu dan aku, sering sekali terombang ambingkan keadaan. Semoga Khadian menemukan pencerahan dalam hidupnya.

Baca juga novel Tepian Rasa ya.. ceritanya tak terduga!