#JANGANDIAM baiknya mereka diapakan ?

Beberapa waktu yang lalu, karena dideru panasnya hati melihat tingkah FPI dan kroninya yang menabrak logika dan nalar,saya ikut menanda-tangani petisi bubarkan FPI. Tidak hanya sekali bahkan seingat saya dua kali. Dan nyatanya FPI malah tambah menjadi-jadi.
Kalau memang kita tidak suka karena berbeda dan kemudian membenci apa bedanya dengan mereka ?
Jangan ikuti permainannya

Yang mereka angkat menjadi strategi utama adalah perbedaan, saya berbeda dengan kamu, makanya saya tidak suka kamu.

Bila kita membela ahok karena ahok sama agama dengan kita, apa bedanya dengan mereka.

Bila karena perbedaan dari mereka buat kita jadi benci, dengan demikian kita sudah mengikuti permainannya. Kita sudah nurut-tanpa sadar – menjadi pemain dalam permainan yang mereka sutradarai. Dan kita hilang dalam permainannya.

Bikin permainan sendiri. Permainan dimana kita lebih menguasainya, dimana mereka lebih lemah memainkannya. Saya kira mayoritas pengikutnya sebenarnya tidak paham apa yang mereka perjuangkan. Padahal lebih banyak adalah pesanan paket politik. Yang penting mereka membela nilai yang mereka yakini dan berharap dapat pahala darinya.

Jangan siram api dengan bensin, kalo tidak mau membakar muka mu sendiri

Jangan berikan gerakan kebencian dengan perlawanan yang menggunakan kebencian, itu akan mengundang eskalasi yang sama saja dengan menyiram bensin kepada api, meledak kena mukamu sendiri.

Turunkan eskalasinya. Jangan panaskan, namun dinginkan. Tidak perlu menghujat, membenci, atau menjelek-jelekkan itu sama saja mengundang eskalasi. Lalu membuat Front Pembela tandingan yang siap menantang saya pikir juga saya saja memancing eskalasi.

Ajer atau Ajur 

(Ajer = larut, Ajur = Hancur)

Mereka lemah dalam perbedaan, apalagi lawan politik yang berbeda dengannya. Tidak mudah untuk bisa “ajer”  dalam perbedaan, butuh keterampilan dan kepekaan.  Sehingga jika tidak bisa “ajer” ya respon paling mudah adalah di “ajur”.
Orang yang tidak pinter biasanya lebih pilih “ajur” kenapa? ya karena respon paling mudah memang menghancurkan, membanting, dan merusak. Butuh kepekaan sosial dan bahkan spiritual untuk bisa “ajer” dalam perbedaan.

Mana yang tidak pilih akan menentukan permainan kita? Ajer atau Ajur ?
Anda yang menentukan.

Ajer tidak akan membuat kita hilang, ajer membuat kita signifikan dalam perbedaan malahan. Ajur membuat kita dominan namun hanya tunggal tidak ada yang lain, karena yang lain ajur, tinggal menunggu yang lain menemukan teman untuk gantian menghancurkan kamu dan begitu terus sampai semua ajur (hancur).

salam.

Image

#JANGANDIAM

Kita saat ini di situasi dimana akal sehat dan semua cara dipakai hanya demi melancarkan kekuasaan.

Kaum intelektual jangan diam.

Negara ini butuh suara logis dan mengedepankan kedamaian dan harmoni. Disaat kita kaum menengah ngehe! hanya scroll-scroll berita di media online dan hanya diam. Disaat itulah kamu sebenarnya melancarkan dan mengizinkan kebodohan yang menghasilkan tindakan bodoh merajalela.

Jangan diam. Katakan sesuatu.

Katakan sesuatu yang mendamaikan.

Katakan sesuatu yang menjadi solusi.

#jangandiam

Image

Training: Fasilitator VS Presenter

fasilitator

Apakah ketika anda di berbicara depan kelas lalu kemudian mengoperasi power point lalu anda disebut fasilitator training? tidak.

Trainer ditampilkan oleh orang-orang sebagai orang yang memberikan ceramah kepada banyak orang. Dan itulah yang melekat dibenak banyak orang. Saya teringat dengan salah seorang rekan yang pernah menyampaikan “biar saya yang menyampaikan training, saya juga ko membaca”. Saya pikir ya boleh saja, silahkan, dan yang terjadi sepanjang sesi dia menghabiskan waktu dengan membaca slide power point diselingi dengan cerita yang seringkali melantur. Terlihat peserta tersiksa, mungkin dalam pikiran mereka saat itu mereka sedang terjebak dan harus mendengarkan orang yang bicara dan menuntut untuk didengarkan. Rekan itu sedang menjadi presenter dan bukan menjadi fasilitator training.

Saya juga tidak sempurna dan terus belajar, namun inilah yang saya pelajari bahwa jadi fasilitator training itu berbeda dengan presenter. Tujuan fasilitasi dalam training adalah untuk memandu peserta untuk mencapai tujuan yang disepakati dalam sebuah pelatihan. Analoginya, memfasilitasi pengalaman belajar adalah seperti menjadi pemandu di sebuah perjalanan safari: Anda akan mengarahkan orang ke arah yang tepat, membuat saran, mengambil langkah-langkah yang dapat meningkatkan pengalaman bagi para peserta, memberikan bimbingan yang jelas dan melalui perjalanan beserta dengan rombongan anda. Anda akan menjadi pemandu wisata safari buruk bila hanya memberikan peta kepada rombongan, dan anda mengatakan, “Anda akan melalui perjalanan yang besar”, dan kemudian duduk kembali di kursi dan hanya menonton, tentu rombongan anda akan protes.

Hal yang sama juga berlaku untuk fasilitator pelatihan.  Satu hal yang harus dilakukan fasilitator adalah sejauh apapun proses itu berlangsung fasilitator tidak bisa memisahkan diri dari peserta pelatihannya; para peserta adalah dengan peserta didik dalam mencari pengalaman pelajajaran baru di sepanjang jalan proses pelatihan. Fasilitator adalah bagian dari mereka, namun tidak salah satu dari mereka, karena fasilitator membimbing peserta menemukan hasil dari tujuan belajar.

Fasilitator akan bertanggung kepada kelompok; oleh karena itu, fasilitator penting itu untuk mendasari hubungan dengan kepercayaan dan kehormatan. Dengan peran yang berbeda dari guru/instruktur/presenter di kelas, yang dimana terlihat jelas ada pemisahan antara peserta didik dan presenter, dan di mana presenter diposisikan sebagai seorang ahli yang tahu semua. Dan sedangkan para peserta yang hanya pasif menerima pengetahuan. Fasilitator mengetahui wilayah subjek dan topik pelatihan tetapi lebih dari itu fasilitator akan membantu peserta didik mengetahui dan menerapkan materi subjek. Fasilitator bertujuan tidak hanya menginformasikan, tetapi juga melengkapi para peserta untuk pengembangan diri dan mendorong pertumbuhan, dan kemudian terus-menerus belajar tentang subjek sampai ke level ahli.  Tiga Karakteristik utama membedakan fasilitator dari adalah presenter: fokus, kontrol, dan kredibilitas. Masing-masing dari karakteristik fasilitator dibahas dibawah ini :

Fokus

Dengan fasilitasi, fokusnya adalah pada peserta. Ketika Anda mengamati presentasi dan kegiatan pembelajaran yang difasilitasi, maka akan tampak perbedaan jelas yang muncul. Salah satu perbedaan paling nampak adalah: fokus.  Dalam presentasi, fokusnya adalah pada presenter. Semua bahan, perilaku presenter dan tindakan-tindakan yang berpusat pada presenter. Tujuan untuk presentasi adalah untuk meng-cover materi dan untuk menampilkan keahlian dan keterampilan presenter. Sebaliknya, dalam kegiatan pembelajaran yang difasilitasi, fokusnya adalah pada pelajar/ peserta. Semua bahan-bahan, perilaku fasilitator, dan kegiatan pelatihan berpusat untuk membantu pelajar mempelajari dan menerapkan konten. Tujuannya sederhana dan mendalam: membuat proses belajar terjadi dan aplikasi yang baik dalam dunia nyata.

Kontrol

Fasilitator berbagi kontrol kepada peserta pelatihan. Presenter menyajikan informasi atau konten ke “penonton”. Presenter itu memiliki kelebihan dalam memberikan instruksi, berbicara dengan bahasa dan kosa kata yang baik, gaya bicara yang menarik. Mengikuti definisi-definisi yang sangat baik. Namun tidak ada jaminan bahwa peserta akan menggunakan informasi atau pelajaran dari presenter.

Untuk seorang fasilitator, penguasaan konten dan kemampuan presentasi merupakan keahlian yang harus dimiliki. Tanpa kedua hal itu maka fasilitator yang potensial pun tidak akan berhasil dalam pekerjaannya. Fasilitasi pelatihan yang efektif dimulai dengan penguasaan konten dan kemampuan presentasi. Fasilitator yang efektif membagikan kontrol terhadap konten juga kepada peserta dan berbagi tanggung jawab pada proses belajar. Fasilitator membentuk iklim, struktur pembelajaran, dan proses pelatihan yang mengalir dengan baik.

Para peserta memiliki banyak kesempatan untuk bertanya dan menanggapi pertanyaan, melibatkan fasilitator dan peserta lain dalam diskusi dan hingga menerapkan konten pelatihan kedalam pekerjaan nyata. Karena kontrol ada diantara fasilisator dan para peserta maka terjadilah akuntabilitas selama proses pelatihan. Sehingga selama proses pelatihan tidak menjadi pasif, peserta punya akuntabilitas dalam proses belajar dan menerapkan konten pelatihan dan aplikasi dalam pekerjaan mereka.

Karena peserta memiliki lebih banyak kontrol, maka Fasilitator harus semakin aktif dalam mendengarkan, bertanya dan coaching untuk membangun pengalaman para peserta dan sehingga mereka bisa menerapkan konten pelatihan. Apakah ini lebih sulit daripada menjadi presenter? Anda pasti menjawab Iya.

Presentasi hanya terjadi di level pengetahuan. Fasilitasi terjadi pada beberapa level: pikiran, perasaan, intuitif, fisik, sinergis dan emosional. Maka Fasilitator perlu untuk menanggapi, melacak, dan mengundang peserta untuk menunjukan keterlibatan dalam proses pelatihan berlangsung. Dan yang pasti terjadi adalah lebih banyak kontrol yang dibagikan kepada para peserta maka proses belajar lebih efektif akan terjadi.

Kredibilitas

Fasilitator memperoleh kredibilitas dari lebih dari penguasaan terhadap subjek pelatihan. Presenter mendapatkan (atau kehilangan) kredibilitas dari peserta oleh karena isi dari presentasinya, dari penguasaan konten, dan dengan kemampuan mereka untuk menghubungan konten dengan pengalaman yang relevan. Presenter yang memiliki kemampuan untuk memberikan contoh, menceritakan kisah-kisah, dan menjawab pertanyaan dari latar belakang yang kuat dan hasil pengalamannya akan mendapatkan kredibilitas. Tapi apa yang terjadi jika seorang presenter tidak tahu jawaban atas suatu pertanyaan? Atau ketika jawaban presenter dan pengalaman peserta tidak sinkron, dan peserta tidak menyukai jawabannya? Kredibilitas presenter di mata peserta rusak atau bahkan hilang.

Penguasaan konten dan kontrol penuh memberikan kredibilitas kepada presenter. Kredibilitas fasilitator berasal dari kemampuan untuk membuat dan mempertahankan situasi yang menunjang proses pembelajaran yang efektif dalam pelatihan dan membuat hubungan antara konten pelatihan ke pekerjaan nyata. Hal ini bertumpu pada penanganan interpersonal oleh fasilitator pada proses kelompok, dan menjaga serta memperhatikan pesertanya. Juga dari kemampuan untuk fleksibel dan menyesuaikan konten guna menjawab kebutuhan para pesertanya. Hal ini adalah juga bagaimana fasilitator melibatkan peserta pelatihannya dan membantu mereka untuk menemukan pengalaman belajar sendiri. Fasilitator berupaya mendukung proses pembelajaran, bukan semata-mata fasilitator adalah ahil-subjek (subject Matter Expert).

Dengan cara ini, ketika fasilitator menghadapi pertanyaan dan dia tidak bisa menjawabnya (tentu saja peristiwa langka!), ia akan memfasilitasi kelompok menemukan jawaban secara bersama-sama, dan dengan demikian Ia sedang mempertahankan dan bahkan meningkatkan kredibilitasnya sebagai fasilitator. Selain itu, jika fasilitator tidak tahu jawabannya ia memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan “Saya tidak tahu, tapi saya akan menemukan jawabannya” dan tanpa merusak kredibilitas.

Ringkasan

Fasilitator berfokus pada pesertanya, sedangkan presenter berfokus pada diri sendiri dan konten. Fasilitator membagi kontrol di setiap sesi dan lingkungan belajar dengan peserta didik, namun presenter mengendalikan semua aspek. Fasilitator berasal kredibilitas dari subjek keahlian, keterampilan presentasi, keterampilan interpersonal, mempertanyakan kemampuan, pengelolaan lingkungan belajar, berbagi ide, fleksibilitas, dan hubungan pembelajaran bagi para peserta didik pengalaman dan pekerjaan, sementara presenter berasal kredibilitas semata-mata dari subjek keahlian dan kemampuan presentasi.

Fasilitasi berpusat pada peserta; presentasi berpusat pada presenter. hasil presentasi peserta menjadi tahu tentang informasi disajikan.   Karena presentasi berpusat pada presenter, orang-orang di kontrol oleh presenter dan bagaimana penonton terlibat dengan subjek (atau tidak) dibawah pengaruh presenter pula. Presenter memutuskan kapan pertanyaan diperbolehkan untuk diajukan peserta, dan begitu pula tujuan dan arah pertanyaanya. Sebagian besar tindakan adalah dari presenter; peserta sebagai penonton sebagian besar tetap pasif. Dengan mengelola kontrol ini, presenter mengambil tanggung jawab penuh untuk peningkatan pengetahuan pesertanya. Dan dengan hanya menyajikan informasi untuk peserta tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk terlibat dengannya, mempraktekannya, menerapkannya, presenter pada dasarnya menyerahkan peta pada rombongannya dan kemudian mengatakan “Silahkan melalui perjalanan ini!” dan membiarkan para rombongan itu menemukan jalan mereka sendiri.

Itu sudah

Salam super mario bros!

btw saya belajar dari bukunya ASTD

Image

Rangkaian Training

obed-nugroho

Tujuh tahun menjadi Training Specialist, sekali-kali berbagai tentang training. Biasanya materi-materi ini rahasia😀

Dulu masih berpengalaman dalam training saya menggebu-gebu buat role play dulu sampai pada akhirnya saya dapati banyak kelemahan selain habis waktu sering kali pelajaran yang didapatkan tidak sejalan dengan materi. Dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan presentasi, dan Rasanya kurang efektif.

Ada urutan lebih dengan hanya mengalir saja. Urutan kegiatan dalam training harus bervariasi dan memperhatikan kecepatan, intensitas, dan tingkat keterlibatan pesertanya. Variasi ini akan bermanfaat tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan gaya belajar peserta yang bervariasi, tetapi juga membantu peserta sehingga mereka dapat sedikit beristirahat  selama kegiatan kurang intens (presentasi). Sebagai contoh, urutan yang tidak disarankan:

  1. Role Play
  2. Latihan terstruktur
  3. Aktivitas aplikasi
  4. Diskusi kesimpulan

Anda dan peserta didik akan kelelahan!

Contoh yang lebih baik dari rangkaian dalam sesi training adalah sebagai berikut:

  1. Ceramah
  2. Latihan Terstruktur
  3. Diskusi
  4. Aplikasi
  5. Diskusi kesimpulan

Ceramah dan diskusi akan memberikan kesempatan “berhenti” secara fisik diantara kegiatan yang lebih intens. Seperti contoh yang pertama yang menunjukan ada beberapa rangkaian keputusan yang harus dibuat dan melibatkan enerji yang lebih banyak.

Rangkaian kedua meminta peserta untuk menguasai setiap subskill, sebelumnya mereka menerima pengetahuan lalu ditambahkan praktek-praktek keterampilan yang komprehensif.

Diskusi kesimpulan penting dilakukan ketika kegiatan berakhir: ini akan mengikat konten dalam pikiran peserta dan menyediakan “perhentian” sebelum masuk ke dalam rangkaian selanjutnya.

dah gitu aja

Salam Super!

 

btw ini belajar dari bukunya ASTD (American Society of Training and Development)

Image